Webinar Hasil Penelitian, Motif Tenun Ikat Kaya Makna

  • Whatsapp
Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPELITBANGDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Webinar terkait hasil penelitian “Dokumentasi Motif dan Unsur Budaya Tak Benda Dalam Kain Tenun Orang Sumba, Alor, Belu dan Manggarai”.


Webinar seminar akhir penelitian ini menghadirkan Selsus T. Djese sebagai pembicara utama dengan judul penelitian “Dokumentasi Motif dan Unsur Budaya Tak Benda Dalam Kain Tenun Orang Sumba, Alor, Belu dan Manggarai”.
Penelitian ini merupakan refleksi kritis atas dinamika kebudayaan inilah yang melatarbelakangi terlaksananya penelitian ini. 

Bacaan Lainnya


“Bappelitbangda Provinsi NTT mengambil perannya dalam pelaksanaan penelitian ini untuk mendokumentasikan segala cipta, rasa dan karsa yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang, yang merupakan karya Intelektual Nenek Moyang Kita,” ungkap Hendry Donald Izaac, Kabid Litbang Bappelitbangda Provinsi NTT mengawali webinar belum lama ini.


Oleh Karena itu, penelitian ini mengungkapkan berbagai motif yang ditemukan pada orang Kemak di Kampung Sadi, Kabupaten Belu, orang Sumba di daerah Kodi Sumba Barat Daya (SBD), orang Alor di Pulau Ternate, dan orang Manggarai di Kampung Cibal dan Todo. 


“Identifikasi motif-motif tersebut, selanjutnya diselami kedalaman makna di baliknya. Ada nilai, norma, etika , ekologis, gagasan, ide, mitos, cerita rakyat yang terdapat dalam motif tersebut,” ungkap Donald.


Pada awal presentasinya, Djese menyentil tergerusnya kearifan lokal NTT, karena adanya ancaman ekonomi, agama, pendidikan dan kebijakan pemerintah. 


”Tanpa kita sadari, perubahan kehidupan manusia dalam aspek ekonomi, agama, pendidikan, politik dan sebagainya, perlahan-lahan mulai memudarkan warisan budaya kita. Kita terperangkap dalam ancaman dan jebakan budaya kekinian,” ujarnya.


Dalam paparan selanjutnya, selaku ketua tim penelitian, Djese mengidentifikasi berbagai motif tenun orang Kemak di belu di antara; motif nugu/tanduk, motif robmiki/pinggang perempuan, motif bebatara, motif negus ai klune, motif bunga 53, motif tokek, motif misbair ai/sorgum, motif briataha/daun pariah, dan motif si uta/daging otak binatang.

Baca Juga :  Bahas Agenda 2020, Majelis Pertimbangan Bapelitbangda Gelar Sidang

Orang Kodi di SBD memiliki juga beragam motif tenun, seperti; motif lurus, motif lawo remba, motif loluga, dan motif lawo. 


Ragam motif tenunan yang bervariasi dalam rupa zoomorpic, antropomorph, flora dan geotris ditemukan juga pada mahakarya bebek moyang orang Manggarai di Kampung Todo dan Cabal. Ada motif ranggong atau laba-laba, motif wela atau bunga, motif ntala atau bintang, motif ju’I sui atau polopala, motif mata manuk atau mata ayam, motif jok atau pucuk rebung dan motif-motif kecil lainnya seperti; motif bengkar, motif matang bengkar, motif libo dan motif belah ketupat.


Kekayaan motif yang dihasilkan orang Alor di Pulau Ternate juga beragam dan tak kalah menarik. Nenek moyang orang Alor sudah gemar menenun dengan motif kura-kura, motif gajah, motif ikan pari, motif cumu-cumi, motif rusa, motif ranta kapal, motif biji kenari dan motif mesjid. 


“Hasil penelurusan terhadap makna di balik motif tenunan pun beragam. Banyak pesan kehidupan yang tersirat di balik mahakarya para nenek moyang kita,” ungkap Djese. 


Dalam paparannya, dijelaskan tentang makna motif nugu/tanduk, motif lurus dan motif ranggong. Motif nugu/tanduk menunjukkan kebesaran dan kehormatan seorang raja atau pemimpin. Motif ini merepresentasi kaum lelaki.


Tanduk juga menandakan keberlanjutan ikatan hubungan komunal antar suku. Motif lurus merepsentasikan wawasan dan keinginan agar para lelaki di daerah Kodi untuk selalu berada pada hidup yang lurus. Garis vertikal yang terdapat pada motif, dipahami sebagai hubungan antar elemen yang di atas, di tengah dan di bawah dalam satu garis imajiner vertikal dalam kosmologi orang Sumba. 

Baca Juga :  Bahas Agenda 2020, Majelis Pertimbangan Bapelitbangda Gelar Sidang


Motif ranggong menunjukkan cerminan dari lodok atau bentuk sawah serupa jaring laba-laba yang terdapat dalam sistem pembagian tanah persawahan di daerah Manggarai. Lodok membahasakan tentang kearifan lokal orang Manggarai dalam pembagian lahan pada satu lingko atau tanah ulayat. Kearifan ini berangkat dari satu kisah mitos kayu teno.  


Dalam perkembangan, lodok, simbol kearifan dalam membagi areal kebun atau sawah dalam satu lingko para anggota wa’u (kelompok beberapa klan/suku atau panga) yang menetap pada satu kampung atau golo. Budaya lonto leok atau budaya musyawarah mufakat dalam suatu pertemuan adat.

Hasil dari lonto leok ini adalah suatu kesepahaman, pikiran, pendapat, idea tau lainnya yang akan menjadi acuan dalam hidup bersama. 
Di akhir presentasi, Djese berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam pengembangan budaya dan mempromosikan budaya lokal ke daerah-daerah di luar NTT. 


“Penelitian ini hanya sebagian kecil dari tanggung jawab pemerintah dalam melestarikan mahakarya para nenek moyang kita. Yang terpenting adalah hasil penelitian ini menambah pengetahuan tentang budaya NTT, mengingatkan kita untuk terus menjaganya, dan bisa mendatangkan nilai-nilai ekonomis tanpa menghilangkan orisinalitasnya,” pungkasnya.


Dalam nada yang sama, Kabid Litbang Bappelitbangda Provinsi NTT juga mengapresiasi antusiasme peserta seminar dalam merespon hasil penelitian. 


“Saya berterima kasih kepada semua peserta yang memberikan kritik, saran dan pertanyaan terhadap hasil penelitian yang disampaikan oleh tim. Dalam kesempatan selanjutnya, tim akan melengkapi semua masukan dari para peserta dan menyusunnya menjadi sebuah policy brief untuk dirumuskan dalam suatu policy, yang disampaikan ke dinas-dinas teknis,” tandasnya. (*/Ado)

Pos terkait