Webinar Bapelitbangda NTT, Nori Kelor Ma Ale Kaya Gizi

  • Whatsapp
Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPELITBANGDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Webinar terkait hasil penelitian Nori Kelor yang kaya gizi, Selasa, 17 November 2020.


Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, Suci Istiqlaal memastikan Nori Kelor Ma Ale Kaya Gizi Kombinasi gagasan pembangunan ekonomi biru (rumput laut) dan ekonomi hijau (kelor) Provinsi NTT menginspirasi tim peneliti untuk mendesain suatu alternatif produk pangan fungsional.


Kepala bagian (Kabag) Litbang Bappelitbangda Provinsi NTT, Hendry Donald Izaac dalam sambutannya pada pembukaan webinar itu mengatakan melalui kegiatan penelitian, alternative pengembangan produk pangan fungsional yang dihasilkan merupakan perpaduan antara olahan rumput laut dan kelor. 


Perpaduan keduanya akan menghasilkan nori yang multi gizi sebagai makanan tambahan bagi anak balita, ibu hamil dan wanita usia subur. 


“Dengan replikasi hasil penelitian Suci Istiqlaal dan timnya, kami berharap Litbang NTT bisa menghasilan suatu produk pangan fungsional yang bermanfaat untuk meningkatkan status gizi dan derajat kesehatan masyarakat NTT,” kata Donald.
Penelitian ini hasil kerjasama Litbang dengan Universitas Nusa Cendana Kupang dan Institut Pertanian Bogor. 


“Meskipun di tengah pandemic covid 19, kami sangat bersyukur karena pelaksanaan penelitian ini dapat mencapai tahapan terakhir. Untuk itu, kritik dan saran yang prospektif dari  para peserta sangat diharapkan untuk perbaikan penyusunan  laporan akhir,” lanjut Donald.


Mengawali presentasinya, Suci mengungkapkan sejumlah ide yang melatarbelakangi penelitian ini. Dimana, laut NTT menghasilkan rumput laut yang berlimpah, dengan tiga kabupaten penyumbang hasil rumput laut terbesar diantaranya Kabupaten Kupang sebanyak 1.343.128 ton, Sumba Barat 192.720 ton dan Rote Ndao  126.212 ton. 


Menurut Data Kementrian Kelautan dan Perikanan, produk rumput laut NTT mencapai 2.056.151,51 ton pada tiga tahun terakhir. Kayanya hasil rumput laut ini perlu dikembangkan untuk menghasilkan difersifikasi produk pangan fungsional. 


“Karena itu, tujuan penelitian ini mau mengetahui secara pasti kondisi fisika, kimia dan biologis produk nori berbahan baku rumput laut dan kelor,” jelas Suci.


Dalam presentasinya, Suci begitu optimis dengan hasil penelitian yang berjudul “Pengolahan Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Menjadi Pangan Fungsional”. Rasa optimis Suci dan tim tergambar dari penjelasan tentang temuan dalam hasil penelitian. 


Dengan metode eksperimen (true eksperiment) yang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), suci menjelaskan secara detil hasil penelitian yang diperoleh dari uji laboratorium terhadap rumput laut dan kelor.  


Menurut hasil analisis statistik dengan menggunakan sidik ragam dengan selang kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tepung kelor mempengaruhi secara signifikan terhadap nilai rendemen, kandungan logam tembaga (Cu) dan besi (Fe). 


Tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan merkuri (Hg), cadmium (Cd), timbal (Pb) dan timah (Sn). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan bubuk daun kelor memberikan pengaruh signifikan terhadap kandungan antioksidan, kadar abu, lemak, protein dan karbohidrat, serat kasar, mineral K, Ca, Mg, Zn dan Se dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar air nori kelor. 


Jenis asam amino yang terkandung dalam jumlah yang cukup tinggi dalam nori kelor adalah  Aspartic acid, Glutamat dan  Arginin. 
Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa nori kelor  mengandung asam lemak omega 3 (Asam linolenat, Asam eikosapentaenoat dan asam Cis-4,7,10,13,16,19-Docosahexaeonic Acid), Asam lemak Omega 6 (Asam linoleate, Y- Linolenic Acid, C18: 3n6 dan Asam arakhidonat) dan Asam lemak Omega 9 (Oleat dan Erucic Acid Methyl Ester, C22: 1n9).

Di akhir paparannya, Suci menegaskan bahwa perlakuan ini berpengaruh nyata terhadap nilai kandungan cemaran  mikroba  nori kelor, dengan nilai ALT rendah artinya nori yang dihasilkan bebas cemaran dan aman dikonsumsi. 
“Dengan temuan dalam hasil penelitian ini, saya pastikan desain nori paduan olahan kelor dan rumput laut kaya akan gizi,” tegasnya.


Lebih lanjut Suci menambahkan untuk menjadikan nori, hasil penelitian ini menjadi pangan fungsional yang membantu penanganan masalah malnutrisi terutama penurunan angka  stunting  di NTT, maka perlu penelitian lanjutan terkait dampak intervensi pemberian nori kelor  terhadap status gizi  dan derajat kesehatan anak balita, wanita usia subur dan ibu hamil  pada lahan kering kepulaun dan pariwisata.


Presentasi hasil penelitian Suci mengundang atensi yang serius dari para peserta. Banyak peserta yang bertanya tentang mutu gizi yang terdapat dalam nori kelor serta kelayakan produl hasil penelitian ini untuk siap dipasarkan dan  dikonsumsi. Selanjutnya beberapa saran masukan terkait  pengembangan lebih lanjut pasca presentasi hasil penelitian. Presentasi hasil penelitian Suci dan tim mendapat apresiasi yang luar biasa dari para peserta. 


“Ini sebuah terobosan yang hebat dari Bappelitbangda Provinsi NTT. Untuk itu, kajian ini memberikan jawaban atas ide dan gagasan Gubernur NTT  dalam mengembangkan ekonomi hijau dan ekonomi biru,” tandas Mikael Radjamuda Bataona.


Sedangkan, DR. Hengky Kaluge dalam catatannya menyoroti soal metodologi penelitian yang perlu dilihat lebih jeli oleh tim peneliti. 


“Tim begitu rinci melaporkan hasil penelitiannya, dan ini pekerjaan yang cukup rumit. Saya mengapresiasi kerja hebat dari tim. Akan tetapi, pada bagian metodologi, tim perlu memastikan penggunaan teknik-teknik analisis data, seperti uji pengaruh untuk melihat kesesuaian dengan fokus penelitian, terangnya,” kata DR. Kaluge.


Dia menyarankan agar perlunya dilaksanakan riset pengembangan untuk menghasilkan produk nori dalam kemasan. (*/Ado)