Menang Kasasi, Marthen Koenay Ancam Eksekusi Warga Diatas Lahan Sengketa

Bagikan :

Marthen Koenay didampingi Kuasa hukum Fransisco Bessie

NTTTERKINI.ID, Kupang – Marthen Koenay, pewaris tunggal dari Esau dan Minggus Koenay mengancam akan menggusur warga yang tinggal diatas lahan sengketa yang telah dimenangkan sesuai putusan Mahkamah Agung (MA).

“Kami memberikan waktu selama sebulan bagi warga yang tinggal diatas lahan sengketa untul mendatangi Posko Keluarga Koenay,” kata Marthen Koenay saat memberikan keterangan pers kepada wartawan, Senin, 1 Februari 2021.

Kuasa hukum Marthen Koenay, Fransico Bessie mengatakan berdasarkan putusan PN Kupang No 78 tahun 2014, Piet Koenay sebagai penggugat melawan Ferdinan Koenay dkk sebagai tergugat menyatakan menolak gugatan Piet Koenay.

Selanjutnya Piet Koenay cs mengajukan banding dan putusan No 70 tahun 2019 menguatkan putusan PN Kupang. Mereka lalu mengajukan kasasi ke MA, putusan No 1505 tanggal 17 Juni 2020, hasil putusan itu baru diterima pada 19 Januari 2021 juga menolak gugatan Piet Koenay Cs.

“Putusan MA ini mengakhiri sengeketa lahan yang di gugat Piet Koneay cs. Sehingga mereka tidak bisa lagi mengklaim lahan yang disengketakan,” tegasnya.

Selanjutnya jelas Marthen Koenay, lahan yang disengketakan antara Piet Koenay cs sebagai penggugat melawan Ferdinan Koenay cs berada di tiga lokasi yakni sekitar pantai pasar ikan Oesapa seluas 18 hektare (ha) di Lasiana seluas 100 ha dan Pagar Panjang di Jalan Piet Tallo, Liliba seluas 250 ha.

“Jadi kurang lebih 368 ha lahan yang telah kami menangkan,” jelasnya.

Sebelumnya penguasaan fisik lahan tersebut dikuasi oleh Pemerintah Kabupaten Kupang setelah diserahkan oleh Bertolomeus dan Piet Koenay.

“Karena keduanya tak miliki bukti, maka mereka diberi kompensasi sebagai penggarap lahan,” jelasnya.

Berdasarkan putusan eksekusi yang telah diterimanya menyebutkan jika pihak-pihak belum melakukan pendekatan dengan pihak Esau Koenya, maka akan dilakukan pembongkaran sesuai permintaan dari Esau Koneay.

“Esau dan Minggus Koneay telah meninggal, maka dialihkan ke ahli waris pengganti. Jadi bukan karena keduanya sudah meninggal lalu tidak ada ahli waris pengganti,” katanya.

Objek lahan disengketakan ini, menurut dia, telah dijual, dibagi-bagi dan dihibahkan ke pihak lain. “Seolah-olah dia yang memegang putusan inkrah dari MA,” katanya.

Karena itu, jika warga yang tinggal diatas lahan sengeketa punya itikad baik. Boleh datang agar dikoreksi.

“Jika sudah ada bangunan diatas objek, maka akan dihitung berapa luasnya, sehingga sisanya dari penguasaan lahan dikembalikan, sehingga tidak membenani,” katanya. (Ado)


Bagikan :
Baca Juga :  Keluarga Konay Himbau Masyarakat Hati-hati Beli Tanah

Pos terkait