Masa Pandemi, Mahasiswa Baru IAKN Kupang Tetap Kuliah Tatap Muka

  • Whatsapp
Bagikan :

Harun Natonis

NTTTERKINI.ID, Kupang – Para mahasiswa baru tahun ajaran 2020/2021 Institut Agama Kristen Negeri Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap melaksanakan perkuliahan tatap muka berdasarkan surat edaran Menteri agama RI meski situasi pendemi Covid-19 terus melonjak.

Bacaan Lainnya

“Kita tetap memberlakukan kuliah tatap muka, namun dibatasi kuotanya 50 persen dari jumlah total mahasiswa baru,” kata Rektor IAKN Kupang, Harun Natonis, Sabtu, 19 September 2020.

Menurut dia, perkuliahan tatap muka tersebut masih tetap dilaksanakan khusus bagi mahasiswa baru dari total sebanyak 962 mahasiswa, hanya 481 mahasiswa yang  mengikuti kuliah tatap muka dan sisanya melakukan kuliah online, sedangkan mahasiswa sementer 3 hingga semester 8 juga tetap melakukan perkuliahan sistem online.

Baca Juga :  Mabim Mahasiswa IAKN Kupang Dinilai Langgar Protokol Kesehatan

Ia menambahkan, perkuliahan tatap muka tetap diberlakukan karena belum pelarangan secara resmi dari pemerintah daerah setempat atau pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga acuan perkuliahan tatap muka tetap dijalani berdasarkan edaran Menteri Agama RI Nomor SE tahun 2020 tentang perubahan atas edaran menteri agama Nomor 16 tahun 2020 tentang sistem kerja dalam tatanan normal baru bagi pegawai, dosen dan mahasiswa, yakni 50 persen dari rumah dan 50 persen perkuliahan di kampus.

Kebijakan pemberlakuan tersebut sebagai upaya pengendalian penyebaran virus corona serta mengurangi resiko penularan yang dapat terjadi di lingkungan IAKN Kupang.

“Karena belum ada kebijakan daerah yang melarang, sekarang kita mengikuti edaran menteri, tapi jika di tingkat pemerintah daerah melarang kita akan mengikuti dan memberlakukan kuliah secara online,” tambah Harun.

Baca Juga :  Mabim Mahasiswa IAKN Kupang Dinilai Langgar Protokol Kesehatan

Akses jaringan (Wi-Fi) yang tidak mumpuni dan kepemilikan sarana seperti handphone android yang bagi mahasiswa kurang mampu dan berasal dari keluarga miskin tidak dapat dipenuhi menjadi dua kendala terbesar jika diberlakukan sistem perkuliahan secara online. (Lid)

Pos terkait