Kasus HIV-AIDS Meningkat, ODHA Sulit Akses Obat

  • Whatsapp
Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Penderita kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalami peningkatan hingga mencapai 1.637 orang, namun sebagian susah mengakses obat, karena tidak memiliki Kartu jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN–KIS).

“Semua masalah kesehatan menjadi isu penting, termasuk peningkatan kasus HIV dan AIDS. Hal ini juga menjadi fokus penanggulangan,” kata Wakil Wali Kota Kupang, Herman Man, Kamis, 12 November 2020.

Data perkembangan kasus HIV sebanyak 1.174 kasus dan AIDS sebanyak 463 kasus, dibandingkan tahun 2019 tercatat sebanyak 1.540 kasus, yang terdiri dari HIV sebanyak 1.059 dan AIDS 461 kasus.

Adapun sebaran kasus HIV dan AIDS ditiap kecamatan antara lain Oebobo 20 persen, Kelapa Lima dan Maulafa 19 persen, Alak 16 persen, Kota Lama 15 persen dan Kota Raja 11 persen. Berdasarka jenis kelamin laki-laki sebanyak 981 dan perempuan sebanyak 656 orang.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kupang, Marselinus Bay mengatakan setiap tahun secara data terjadi peningkatan kasus HIV dan AIDS, namun ada pula kendala dalam penanganan karena ditemukan banyak Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) berhenti minum obat ARV atau Lost to Follow Up (LFU), karena tidak memiliki layanan asuransi kesehatan JKN-KIS.

Dia berharap temuan ini segera ditindaklanjuti dengan kebijakan mengikutserta ODHA miskin yang  memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Kupang untuk mendapatkan dukungan pengobatan dari pemerintah dengan memiliki kartu JKN-KIS, sehingga tidak terkendala dalam proses therapi ARV.

Salah satu ODHA mengemukakan alasan berhenti terapi ARV, karena terkendala biaya yang setiap pengambilan dikenakan biaya pada poli dan biaya obat.

“Kalau tidak punya BPJS kami bayar sendiri, dari poli sampai pengambilan obat ada biayanya, semakin hari terasa semakin berat, kalau punya BPJS semua dapat diambil tanpa biaya,” katanya.

Data pasien yang sudah terapi ARV, namun berhenti dengan berbagai alasan salah satunya ketiadaan biaya mengakses obat dan tidak memiliki kartu JKN-KIS  tercatat 92 kasus berdasarkab data dampingan LSM dan Dinkes Kota Kupang. (Lid)

Baca Juga :  Jangan Takuti Orangnya, Tapi Takuti Virusnya

Pos terkait