Kanwil Hukham NTT: Tidak Ada Tindak Kekerasan Terhadap Imigran Afghanistan

Bagikan :


NTTTERKINI.ID, Kupang – Salah satu imigran asal Afghanistan, Hasan Reza Haidari yang melakukan percobaan bunuh diri di Jembatam Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata.


“Hinga saat ini sedang dalam penanganan medis oleh pihak Rumah Sakit Jiwa,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Hukum dan HAM NTT, Marciana Jone kepada wartawan, Rabu, 29 Juni 2022.


Diketahui Hasan sempat melakukan percobaan bunuh diri di Jembatan Liliba, namun berhasil dibujuk aparat kepolisian dan beberapa temannya, sehingga niatnya diurungkan, dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Naimata.


Pasca percobaan bunuh diri, kata Mercy, telah beredar di media sosial pengakuan Pengungsi asal Afghanistan, Abbas Haidari dan Ali Reza Qanbari yang menyatakan telah terjadi tindak kekerasan oleh petugas imigrasi terhadap Hassan pada 21 Juni 2022.

Guna mengklatifikasi hal itu, dia mengaku telah perintahkan Kepala Rudenim Kupang melalui Kepala Divisi Imigrasi untuk melakukan BAP kepada petugas pengamanan Rudenim, dengan kesimpulan tidak terjadi penganiayaan seperti yang telah beredar luas di media sosial.


“Berdasarkan hasil BAP kepada petugas pengamanan dan Pulbaket terhadap 3 (tiga) orang pengungsi diambil kesimpulan bahwa tidak terjadi tindak kekerasan oleh petugas pengamanan kepada Hasan,” tegasnya.

Namun, akibat dugaan penganiayaan itu, para pengungsi melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Wilayah Kemenkumham NTT meminta keadilan atas dugaan pemukulan Pengungsi, Hassan.


“Untuk menghormati hak pengungsi, maka saya membuka kesempatan kepada yang bersangkutan untuk melaporkan kepada pihak Kepolisian atas dugaan penganiayaan yang dialami, oleh petugas pengamanan Rudenim Kupang,” tegasnya.

Mercy mengaku pihaknya juga telah mengunjungi Hasan di RSJ Naimata untuk melihat secara langsung perkembangan kondisi Hassan, dan berdasarkan pengakuan yang bersangkutan dirinya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, akibat jatuh saat mengonsumsi minuman keras.

Berdasarkan rekam medis, jelas dia, yang bersangkutan telah ditangani secara medis oleh psikiater RSJ Naimata sejak 18 Mei 2022, karena menunjukan gejala kecanduan alkohol, kecemasan, dan niat melakukan bunuh diri termasuk kecenderungan melukai diri sendiri dan orang lain.


Berdasarkan laporan dari sesama imigran, jekas dia, Hasan diketahui sering membuat keonaran di tempat penampungan (Shelter). Awalnya Hasan ditampung di Ina Boi, namun sempat terjadi perkelahian dengan imigran lainnya, karena mabuk, sehingga dirinya diamankan di Rumah Detensi Imigrasi.
“Atas permintaan sendiri, maka Hasan dipindahkan ke shelter Lavender,” jelasnya.


Hasan pernah melaporkan ke imigrasi, bahwa dirinya diserang sejumlah imigran lainnya. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui Hasan dalam keadaan mabuk, akibat minuman keras dan membuat keributan di sekitar hotel, sehingga memancing amarah dari masyarakat sekitar hotel.


Selain menimbulkan kegaduhan di sekitar area Hotel, maka yang bersangkutan berteriak dan mengeluarkan kata makian kepada pengendara mobil yang lewat, sehingga dianiaya oleh pengendara mobil dan beberapa masyarakat yang berada di lokasi.

“Petugas kembali mengamankan Hasan ke Rudenim, dan setelah sadar dikembalikan ke Lavender,” katanya.
Berdasarkan surat keterangan dari Rumah Sakit Jiwa Naimata Nomor:UPDINKES.441.3/RSJNK/965/VI/202, menerangkan Hasan sejak 24 Juni 2022 sampai saat ini sedang dirawat inap di UPTD RSJ Naimata. (Ado)


Bagikan :