Julie Laiskodat Bertekad Tekan Angka Stunting dan Gizi Buruk

  • Whatsapp
Bagikan :

Julie Sutrisno Laiskodat

NTTTERKINI.ID, Kupang – Ketua Penggerak PKK dan Dekranasda Nusa Tenggara Timur (NTT), Julie Sustrisno Laiskodat bertekad untuk menekan angka stunting dan gizi buruk di NTT yang masih tinggi.

Berdasarkan data dinas kesehatan NTT, jumlah stunting pada 2018 sebesar 30,1 persen. Di 2019 menurun menjadi 27,9 persen. Sementara hingga periode Agustus 2020 ini sebesar 27,5 persen. Namun angka ini masih terbilang tinggi.

“Memang untuk menuntaskan masalah gizi buruk dan stunting cukup sulit, sehingga kami berupaya menekan angka itu,” kata Julie Laiskodat saat ngopi bareng bersama wartawan belum lama ini.

Apalagi, menurut dia, PKK dan Dekranasda hanya dialokasikan anggaran sebesar Rp30 miliar dengan berbagai program kegiatanbyang harus dilakukan.

Di PKK, misalnya, terdapat 10 program pokok yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang bersentuhan langsung dengan 39 perangkat daerah (PD) yang ada dilingkup Pemerintah Provinsi NTT.

“Dari sepuluh program ini, kami melihat ada program sudah bagus, sehingga kami hanya sempurnakan,” katanya.

Dia mengatakan ada beberapa program yang butuh perhatian serius, seperti Sumber Daya Manusia, stunting dan gizi buruk.

“Kita tahu bahwa stunting dan gizi buruk itu mempengaruhi kecerdasan seseorang. Dengan demikian, kami PKK lebih fokus kepada bagaimana mencegahnya supaya kasus stunting dan gizi buruk tidak mengalami kenaikan,” tegasnya.

Upaya pencegahan yang dilakukan PKK untuk menekan angka stunting dan gizi buruk itu, kata dia, yakni melalui pembentukan desa model di setiap kabupaten/kota dengan memberikan asupan gizi ibu hamil dan menyusui, bayi antara 6-12 bulan, balita 1-5 tahun, anak PAUD dan anak SD melalui penyediaan makanan tambahan bergizi seimbang.

Dia mengatakan jumlah desa di NTT mencapai 3.026 desa, sehingga tidak mungkin terjangkau, sehingga setiap kabupaten diambil satu desa model guna sebagai pilot projeck untuk menekan angka stunting dan gizi buruk ini.

“Saya mau katakan banyak orang yang omong soal stunting dan gizi buruk, tapi pelaksanaan tidak ada,” ujar Bunda Paud ini.

Dengan anggaran yang ada, jelas dia, mulai dari anak-anak PAUD dan SD dianggarkan untuk sarapan pagi bersama. Dan itu dilakukan setiap pagi selama setahun mereka bersekolah disitu akan terus mendapatkan sarapan pagi bersama.

“Gizinya kita sudah berkonsultasi dengan ahli gizi didalamnya ada kelor dan ikan. Karena kelor kita yang terbaik di dunia dan gizinya 17 kali lebih baik dari susu. Dan ikan itu sangat baik untuk anak-anak supaya otaknya lebih cerdas,” tandasnya.

Stunting itu tidak bisa hanya dicegah pada 1.000 hari pertama bayi dilahirkan tetapi harus dilakukan secara kontinyu sesuai dengan siklus kemanusian. (Ado)