IAKN Gandeng STAI Gelar PKM di Desa Tesbatan Bertema Moderasi Beragama

Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Intitut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menggandeng Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kupang dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Desa Tesbatan. 


Tema yang diusung dalam kegiatan tersebut yaitu Kajian Model Dialog Aksi Berbasis Kearifan Lokal Demi Mewujudkan Moderasi Beragama.  Kegiatan tersebut diprakarsai tiga prodi yang bernaung di bawah Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen IAKN Kupang yakni prodi Sosiologia Agama Kristen, Prodi Kepemimpinan Kristen, dan prodi pastoral konseling.  

Bacaan Lainnya


Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Tesbatan dan dihadiri oleh masyarakat yang berasal dari agama berbeda yakni Islam dan Kristen.  Mereka terlihat sangat rukun dan antusias dalam kegiatan tersebut. Bahkan diakhir kegiatan, seorang peserta menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini bisa dilakukan terus menerus di desa mereka. Mereka merasakan manfaat dari kegiatan tersebut.

Baca Juga :  Mabim Mahasiswa IAKN Kupang Dinilai Langgar Protokol Kesehatan


Kepala Desa Tesbatan, Yonatan Fina dalam sambutannya mengatakan masyarakat Tesbatan sangat majemuk, namun kerukunan antara umat beragama begitu terpelihara hingga sekarang. 


“Semua itu karena berkat semangat kekeluargaan dan kerjasama yang sudah terbangun sejak dulu,” katanya saat membuka acara tersebut. 


Wakil Rektor 3 IAKN, Soleman Baun mengatakan kedatangan mereka ke Tesbatan bukan untuk mengajari masyarakat, melainkan untuk belajar dari masyarakat mengenai moderasi beragama berbasis kearifan lokal. 

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan seminar dan Fokus Grup Discusion. Ada tiga pemateri yang menyampaikan materi dalam seminar tersebut, yakni Farij Arkiang dari STAI, Marla Marisa Djami dan BAdi saingo dari IAKN Kupang.  

Baca Juga :  Masa Pandemi, Mahasiswa Baru IAKN Kupang Tetap Kuliah Tatap Muka


Selaku pemateri pertama, Farij menyampaikan materi mengenai Moderasi Beragama di Era Disrupsi. Selanjutnya, Marla Djami menyampaikan mengenai Model Dialog Aksi Berbasis Kearifan Lokal Demi Mewujudkan Moderasi Beragama. Lalu pemateri terakhir, Adi Saingo menutup seminar dengan membawakan materi mengenai Konsep Moderasi Beragama dan Toleransi.

Dari materi yang disampaikan ketiga pemateri tersebut, hal yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat Tesbatan adalah bagaimana memajukan moderasi beragama berbasis lokal di tengah-tengah masyarakat Tesbatan yang majemuk.  


Bukan agama yang dimoderasi, melainkan cara beragama yang dimoderasi.  Tujuan dari seminar ini adalah untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang sudah berakar selama ini di masyarakat Tesbatan.


Usai seminar, dilanjutkan dengan Fokus Grup Discusion. Dalam FGD mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk berbagi bagaimana mereka membangun kerukunan diantara mereka.  

Baca Juga :  IAKN Kupang-BSI Kampanye Stop Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus


Dari semua kelompok, mereka bersepakat keluarga merupakan basis moderasi beragama dalam masyarakat. Mereka juga terbuka bahwa selama ini tak ada sekat antara kelompok Kristen dan Islam di Tesbatan.   Bagi mereka, semuanya adalah keluarga sehingga masalah apapun selalu diselesaikan secara kekeluargaan.  


Selain seminar dan Fokus Grup Discusion, ada juga pelatihan pembuatan hand sanitizer bagi kelompok anak-anak remaja.


Diakhir acara, ada penyerahan cendramata dari Institut Agama Kristen kepada Kepala Desa Tesbatan. Penyerahan cendramata ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan dan kenang-kenangan dari Institut Agama Kristen Negeri Kupang bagi pemerintah dan masyarakat Tesbatan.  Kemudian ada foto bersama dan makan bersama sebagai bentuk silaturahmi. (*/Ado)


Bagikan :

Pos terkait