Dua Saksi Pencemaran Laut Timor di Pengadilan Australia Meninggal

Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Sebanyak dua dari 30 saksi yang dibawa ke Pengadilan Federal Autralia untuk memberikan kesaksian terkait pencemaran Laut Timor pada Agustus 2009 lalu telah meninggal dunia.

“Ada dua saksi yang dilaporkan telah meninggal dunia. Namun hingga saat ini kasus pencemaran ini belum juga ada titik terang,” kata Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPYB), Ferdi Tanoni, Selasa, 25 Januari 2022.

Pada Juni 2019, lebih dari 30 saksi petani rumput laut dibawa ke Sydney untuk memberikan kesaksian di Pengadilan Australia, yang sebagian besar merupakan alasan utama Hakim Yates dalam penghakiman.

Dua saksi yang meninggal itu yakni  Gabriel Mboeik dari Oelua dan Melkianus Mola dari Oebou. Orang-orang baik ini adalah pemimpin di desa mereka dan berjuang keras untuk menegakkan keadilan bagi rakyatnya.

Baca Juga :  Pencemaran Laut Timor, Australia Dipaksa Tampil di Hadapan PBB

“Mereka tidak akan pernah tahu hasil dari pertempuran mereka melawan pencemar multi-nasional ini,” katanya.

Menurut Ferdi saat sidang di Pengadilan Australia membawa serta tali rumput laut  yang berbau minyak padat dan gatal pada tubuh.

“Saya melihat banyak orang di desa-desa yang menunjukkan kepada saya ruam dan bekas luka yang mengerikan di lengan dan bagian lain dari tubuh mereka, yang mereka katakan disebabkan oleh polusi minyak di perairan mereka pada akhir 2009. Tapi mereka tidak tahu darimana asalnya, karena tidak ada yang memperingatkan mereka. Mereka tidak tahu betapa beracunnya itu,” jelasnya.

Mboeik meninggal pada Januari 2020, belum genap 60 tahun. Dia adalah kepala dusun Oedai di Oelua. Dia adalah kepala adat dari klan Manggi. Dia meninggalkan jandanya Gertoreda, enam anak dan banyak cucu ketika dia meninggal.

Baca Juga :  Pencemaran Laut Timor, Australia Dipaksa Tampil di Hadapan PBB

“Mboeik dicintai dan dihormati di desanya dan dijunjung tinggi oleh para saksi lainnya, sebagai wakil yang jujur dan jujur untuk rakyatnya,” katanya.

Saksi lain yang meninggal yakni Mola yang meninggal pada akhir Oktober 2021 dalam usia 50 tahun. Dalam akting untuk desanya, Mola telah melaporkan melihat minyak di sekitar rumput lautnya di pantai Puku Afu.

Mola juga melaporkan perjalanan panjang dengan perahu kecil di sekitar pantai tenggara Pulau Rote. Perahu itu berlayar melewati gumpalan-gumpalan besar yang mengapung dari bahan-bahan berlilin bergetah kuning, beberapa sebesar mobil. Tepat di seberang lautan ia melihat warna kuning dan pelangi terpantul dari air sejauh mata memandang. Airnya berbau minyak.

”Mola mencoba membudidayakan rumput laut setelah mendapatkan minyak tetapi panennya terus gagal. Karena ladangnya jauh dari desanya, dia tidak pernah mencoba lagi ketika usahanya pada tahun 2012 melihat rumput laut layu di talinya.

Baca Juga :  Pencemaran Laut Timor, Australia Dipaksa Tampil di Hadapan PBB

“Ini hanya dua dari petani rumput laut yang telah meninggal” kata Tanoni.

Di seluruh 81 desa yang mengajukan class action, ribuan orang telah meninggal tanpa melihat keadilan. Sayangnya, perusahaan minyak tidak pernah mengakui kerugian yang ditimbulkannya terhadap mereka dan komunitas mereka.

“Perilaku perusahaan minyak itu mengerikan. Fakta bahwa begitu lama mereka berhasil menghindari tanggung jawabnya juga mencerminkan buruknya Pemerintah Australia, yang menguasai bagian Laut Timor itu,” ujarnya.

Tanoni telah membuat representasi untuk meminta bantuan dari Pemerintah Australia sejak 2010. Kegagalannya untuk menanggapi telah memungkinkan perusahaan minyak untuk mengambil keuntungan dari ketidakseimbangan kekuatan antara pencemar dan korbannya di Indonesia yang kurang beruntung. (*/Ado)


Bagikan :