Bank NTT Kekurangan Modal Inti Rp1,2 Triliun

Bagikan :

Raker Bank NTT dan pemegang saham

NTTTERKINI.ID, Kupang – PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) masih kekurangan modal inti sebesar Rp1,2 triliun lebih untuk memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 12 tahun 2020 tentang konsolidasi Bank Umum. Dimana Bank Umum wajib miliki modal inti Rp3 Triliun pada 2024.


Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Alex Riwu Kaho menjelaskan kebutuhan modal inti mininum sesuai POJK sebesar Rp3 triliun. Sedangkan modal yang disetor hingga Desember 2019 sebesar Rp1,383 triliun, dan modal inti Bank NTT sebesar Rp1,767 triliun. 

Baca Juga :  Usulan Pinjaman Daerah Rp900 Miliar Tak Sesuai Prosedur


“Jadi masih kekurangan Rp 1,233 triliun,” kata Alex saat rapat kerja antara Bank NTT, Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Kamis, 6 Agustus 2020.


Rapat yang dipimpin Sekretaris daerah (Sekda) NTT, Benediktus Polomaing dihadiri Sekda dan pimpinan DPRD 22 kabupaten/kota, Kepala OJK NTT serta Direksi Bank NTT.


Sekda NTT, Ben Polomaing mengatakan kekurangan modal inti itu paling lambat sudah harus dipenuhi pada 2024, sehingga pemegang saham harus punya skenario untuk memenuhi kekurangan modal inti itu.

Baca Juga :  Buron Kasus Korupsi Bank NTT Surabaya Ditangkap


Skenario yang disepakati bersama dengan Pemda Kabupaten/kota, menurut dia, sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Labuan Bajo yakni 1 persen APBD dan 50 persen deviden.


“Ini menjadi sebuah rujukan bagi Pemda kabupaten/kota menskenariokan penyertaan modal hingga 2024,” jelasnya.


Pemerintan provinsi, jelas dia, menawarkan agar penyertaan modal disesuai dengan proporsi saham masing-masing daerah. Namun, jika itu yang dipakai, maka jumlah penyertaan modal akan bervariasi, sehingga disepakati yang sesuai RUPS.


“Ada kabupaten yang menolak. Karena jika pakai proporsi saham, maka ada kabupaten yang tidak mencapai 1 persen APBD,” katanya.

Baca Juga :  Dalam Setahun, Bank NTT Gelar Empat Kali RUPS


Dia mengatakan jika hingga 2024 penyertaan modal tidal mencapai Rp3 triliun, maka Bank NTT bisa menggunakan pihak ketiga (Eksternal) untuk menyertakan modalnya di bank tersebut.

“Untuk menghadirkan pihak eksternal tidak gampang, dan butuh proses panjang,” tegasnya.


Dalam rapat tersebut disepakati pula jumlah penyertaan modal dari masing-masing kabupaten/kota harus disampaikan paling lambat 31 Agustus 2020, sehingga bisa dilakukan perhitungan oleh Bank NTT. (Ado)


Bagikan :