Ancaman Stagflasi, Proyeksi Ekonomi NTT Melambat Dikisaran 3,29 Persen

Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Ancaman stagflasi atau kondisi perekonomian yang mengalami perlambatan dan terjadinya tingkat pengangguran yang tinggi disertai kenaikan harga-harga atau inflasi tinggi yang terjadi secara global mempengaruhi seluruh negara termasuk Indonesia, ternasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan perkembangan ekonomi di NTT, Bank Indonesia (BI) memproyeksi pertumbuhan ekonomi di NTT melambat dikisaran 3,29 hingga 4,09 persen.

“Ancaman stagflasi ini nyata. Inflasi kita semakin meninggi, tetapi pertumbuhan ekonomi melambat,” kata Kepala BI NTT, I Nyoman Atmaja dalam SasandoDia, Jumat, 05 Agustus 2022.

Kinerja pertumbuhan ekonomi NTT triwulan II/2022 tercatat hanya sebesar 3,01 persen, melambat atau lebih rendah dibanding nasional yakni  sebesar 5,44 persen.

“Kita masih lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Jadi perlu kita duduk bareng, dan fokus bagaimana mendorong perekonomian kita, sehingga bisa tumbuh lebih baik lagi,” tambah Nyoman.

Indikator struktur ekonomi NTT yang paling menonjol adalah pertanian sebesar 30 persen, administrasi pemerintah 13 persen, perdagangan 12 persen, dengan sub sektor yang perlu diperhatikan yakni peternakan dengan kontribusi 34 persen, hortikultura 20 persen dan tanaman pangan 11 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi swasta sebesar 71 persen, investsi 43 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 20 persen, ekonomi NTT sangat bergantung pada pengeluaran pemerintah, karena geliat ekonomi dan realisasi ekonomi pemerintah mendorong konsumsi swasta.

Pemerintah dan pemangku kepentingan ekonomi, secara bersama harus mencegah stagflasi dengan mengendalikan inflasi serta upaya menumbuhkan ekonomi secara kontinu   mendorong daya beli masyarakat. (Lid)


Bagikan :