Aksi Damai Tuntut Kapolri Beri Atensi Kasus Penkase

Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 20 Desember 2021 menggelar aksi damai memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di Markas Polda NTT.

Dalam tuntutannnya, aksi massa meminta Presiden melalui Kapolri untuk memberi atensi penuh dalam kasus pembunuhan ibu dan anak (Astrid dan Lael) yang ditemukan tewas di proyek penggalian pipa di Kali Dendeng, Kelurahan Penkase Oeleta, kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT pada Sabtu, 30 Oktober 2021 lalu.

Baca Juga :  Standar Layanan Empat Polres di NTT Masuk Zona Merah

Karena, mereka menilai kasus pembunuhan ibu dan anak, Astri dan Lael  merupakan sebuah tindakan kejahatan kemanusiaan luar biasa (extraordinary crime) yang sangat tidak beradab dan merendahkan martabat manusia.

Mereka juga meminta Komnas Ham dan Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak agar mendampingi keluarga mencari keadilan dalam kasus ini.

Polda NTT juga didesak segera menuntaskan kasus ini dengan menangkap, memeriksa semua yang berpotensi terlibat dalam pembunuhan keji tersebut. 

Baca Juga :  Naikan Harga Bahan Bangunan, Polisi Amankan Tiga Pelaku

“Mendesak Polda NTT untuk segera melakukan rekonstruksi secara terbuka di TKP,” tulis mereka dalam tuntutannya yang diterima media ini.

Tidak hanya itu, mereka juga menagih janji Kapolda NTT yang disampaikan kepada keluarga korban,  atas pernyataannya untuk mengungkap pelaku-pelaku pembunuhan Astri dan Lael dan akan memberikan pasal berlapis-lapis kepada tersangka pembunuhan Astri dan Lael. 

Baca Juga :  Wali Kota- Kapolda Tandatangani Kerjasama Pelatihan Casis Polri

“Menuntut para penyidik, agar bekerja secara profesional tanpa diskriminasi, jujur, adil, dan transparan,”.

Mereka juga meminta agar tidak boleh ada pihak yang melakukan intervensi dalam bentuk apapun dengan maksud mengaburkan, bahkan menghilangkan kasus ini agar tidak ada lagi kejahatan kemanusiaan seperti ini. 

“Mengutuk keras para penyidik yang terlalu terburu-buru menetapkan Randy sebagai pelaku tunggal dan pengenaan pasal 338 KUHP,”. (*/Ado)


Bagikan :