2020, Laba Bank NTT Mencapai Rp302 Miliar

Bagikan :

NTTTERKINI.ID, Kupang – Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) pada 2020 sudah mendapat laba sebesar Rp302 miliar dari target yang ditetapkan pemegang saham sebesar Rp108 miliar.

“Hingga saat ini laba Bank NTT telah mencapai Rp302 miliar,” kata Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat menggelar media gathering, Rabu, 16 Desember 2020.

Dia mengakui laba yang dihasilkan belum mencapai target atau terkoreksi 10 persen. Namun dengan sisa waktu yang ada diyakini Bank NTT akan melebihi target yang ditetapkan pemegang saham.

“Melihat waktu yang ada, kami masih bisa melebihi target yang ditetapkan,” tegasnya.

Namun, dia mengaku angka laba ini bukan angka laba bersih, karena laba bersih baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan oleh lembaga keuangan.

“Harus diaudit dulu baru bisa ditetapkab laba yang bisa dipertanggungjawabkan. Diharapkan Januari-Februari 2021 sudah bisa diketahui,” ujarnya.

Terkait laba Rp500 miliar yang ditetapkan Gubernur sebagai pemegang saham pengendali, menurut dia, Gubernur tidak lagi menargetkan laba Rp500 miliar, tapi hanya Rp308 miliar.

Selain laba, jelas dia, dana pihak ketiga (DPK) pada 2020 mencapai 12,23 triliun. Ini artinya walaupun di masa pandemi covid19, masyarakat masih mempercayai Bank NTT.

“Ini buktinya DPK masih tinggi, artinya tingkatkan kepercayaan masyarakat masih baik,” katanya.

Dengan adanya penambahan laba dan peningkatan DPK, maka asset Bank NTT saat ini mencapai Rp15,9 Triliun.

Masih Sehat
Sementara itu, Direktur kepatutan Bank NTT, Hilarius Minggu mengatakan saat ini Bank NTT masih dikategori cukup sehat (kategori 3), sehingga perlu dilakukan pembenahan Bank NTT menuju Bank sehat (Kategori 2).

“Penilaian Bank NTT dan OJK, kita masih berada di kategori cukup sehat,” katanya.

Karena itu, perlu dilakukan berbagai pembenahan guna mencapai kategori sehat, sehingga Bank NTT bisa menjadi Bank Devisa.

Ada hal yang perlu diperhatikan agar NTT bisa dikategorikan sehat. Terdapat empat poin, sehingga Bank NTT bisa dikategori sehat, diantaranya, pertama; resiko kredit yang perlu diperbaiki, karena banyak kredit bermasalah.

“Jadi Tidak boleh lagi ada kredit yang realiasi ke macetnya. Pejabat yang berikan kredit tidak lagi berikan kredit yang tidak vmvenar, harus ada prinrip kehati-hatian,” tegasnya.

Resiko operasional, terkait dengan mesin ATM yang sering rusak atau terkadang uangnya tidak keluar saat ditarik.

Resiko reputasi masih terbilang baik, karena lebih banyak berita-berita positif yang muncul di media. Walaupun ada yang negatif. “Buktinya tidak ada nasabah yang tarik dana dalam jumlah besar,” tandasnya.

Terakhir Good Corporate Governance atau
Tata Kelola Perusahaan Yang Baik. dimana Direksi kurang pantau cabang dan unit. Karena itu, Direksi akan intens monitoring ke kantor cabang.

“Kami harapkan Juni 2021, Bank NTT sudah berubah menjadi bank sehat,” ujarnya. (Lid)


Bagikan :
Baca Juga :  OJK: Calon Dirum Bank NTT Harus Paham Teknologi

Pos terkait